Dipermalukan Taktik Inter, Real Madrid Beruntung Menang 2-1
boss29.news – Real Madrid berhasil mengalahkan Inter Milan 2-1 di Santiago Bernabeu dalam laga pembuka Liga Champions mereka. Namun, skor tersebut terasa terlalu menguntungkan bagi Los Blancos.
Sepanjang pertandingan, mereka kesulitan menghadapi tim tamu asal Italia, sementara hasil akhir menutupi serangkaian kesalahan yang dibuat pelatih asal Portugal, Jose Mourinho, dalam memilih susunan pemain yang tepat.
Jika tiga poin tersebut disingkirkan, Inter Milan adalah tim yang lebih baik dalam waktu yang cukup panjang.
Mereka mampu memaksakan gaya bermainnya dan lebih dari sekali mengancam gawang Real, tetapi Thibaut Courtois berhasil menggagalkan mereka. Kegemilangan sang penjaga gawang berhasil menghentikan peluang-peluang berbahaya yang seharusnya bisa mengubah jalannya pertandingan.
Sebaliknya, Real Madrid nyaris tidak perlu membangun serangan dengan baik untuk mencetak gol.
Mereka memanfaatkan kesalahan naif dari para pemain bertahan dan penjaga gawang Inter, sehingga memberikan keunggulan kepada tuan rumah yang tidak pernah terlihat benar-benar alami, terutama pada babak pertama ketika Nerazzurri menguasai pertandingan.
Bahkan setelah itu, para penyerang Real menyia-nyiakan peluang emas yang seharusnya bisa mengakhiri pertandingan dengan skor 2-0. Pemborosan tersebut membuat penderitaan Los Merengues berlanjut hingga menit-menit akhir. Hasil ini tentu menguntungkan Mourinho.
Namun, penampilan tim dan pilihan susunan pemain di baliknya menimbulkan banyak pertanyaan tentang bagaimana Real Madrid tampil dalam ujian pertama mereka di Eropa.
Kombinasi yang Tidak Cocok
José Mourinho memasuki pertandingan ini dengan krisis di lini tengah. Tiga pemain sekaligus harus absen karena skorsing: Eduardo Camavinga, Bernardo Silva dan Arda Güler, yang semuanya menjalani hukuman akibat kartu merah yang mereka dapatkan pada edisi Liga Champions sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat pelatih asal Portugal itu menghadapi teka-teki yang sangat sulit untuk dipecahkan di salah satu area terpenting di lapangan.
Aurélien Tchouaméni juga belum mampu memberikan banyak bantuan karena masih belum sepenuhnya bugar setelah baru kembali dari cedera.
Karena itu, Mourinho mengambil risiko dengan mendorong Trent Alexander-Arnold ke lini tengah untuk bermain bersama Fede Valverde. Pertaruhan tersebut menjadi bumerang.
Real Madrid tidak pernah menemukan keseimbangannya, dan susunan ini memperlihatkan kelemahan yang jelas dalam cara Los Blancos bermain.
Menempatkan hanya Alexander-Arnold dan Valverde di lini tengah membuat ruang tersebut langsung menjadi milik Inter Milan.
Tim Italia itu memenuhi area tersebut dengan lima pemain, sehingga memiliki keunggulan jumlah yang jelas dan kendali bola yang jauh lebih besar.
Mereka menggerakkan bola, mempertahankannya, dan membangun serangan sesuka hati, sementara Real Madrid kesulitan menyatukan lini pertahanan dan lini serangan mereka.
Inter terus datang menyerang. Gelombang tekanan demi gelombang tekanan terus mengalir ke depan, dan kesenjangan antara kedua tim semakin melebar.
Real Madrid sangat bergantung pada kegemilangan Thibaut Courtois untuk meredam ancaman tersebut.
Penjaga gawang asal Belgia itu melakukan penyelamatan demi penyelamatan, menjaga timnya tetap berada dalam pertandingan sekaligus memperlihatkan kelemahan rencana Mourinho: lini tengah ini tidak pernah dibangun untuk menghadapi tim dengan jumlah pemain dan kendali sebesar itu di tengah lapangan.
Keluguan di Lini Pertahanan dan Serangan yang Mematikan
Inter Milan sedang melakukan pressing dan terlihat sebagai tim yang lebih baik ketika Real Madrid menerima hadiah pertama mereka.
Oriel Bisseck kehilangan bola di area berbahaya, Brahim Diaz langsung memanfaatkannya, dan Kylian Mbappe menyelesaikannya.
Gol tersebut benar-benar datang berlawanan dengan jalannya pertandingan, memberikan keunggulan kepada Los Merengues tepat ketika Inter terlihat lebih mengancam.
Inter bahkan belum sempat mencerna gol pertama dan belum memiliki waktu untuk mengatur ulang permainan ketika penjaga gawang Josep Martinez memberikan sesuatu yang bahkan lebih ceroboh.
Ia mencoba menggiring bola melewati Fede Valverde, kehilangan bola, dan hanya bisa melihat bola bergulir masuk ke gawangnya sendiri.
Dua gol tanpa balasan, sementara alur pertandingan justru menceritakan kisah yang sangat berbeda dari papan skor.
Real Madrid mengubah dua kesalahan individu menjadi dua gol tanpa menampilkan permainan terbaik mereka ataupun mengambil kendali pertandingan.
Tim Italia menikmati lebih banyak penguasaan bola, lebih banyak kontrol dan lebih banyak peluang.
Mereka harus membayar mahal atas kelengahan di lini pertahanan ketika menghadapi lawan yang mampu menghukum celah sekecil apa pun.
Saat turun minum, gambaran pertandingan sudah sangat jelas. Inter Milan adalah tim yang lebih baik di lapangan, sementara Real Madrid unggul dua gol.
Persamaan tersebut menggambarkan perbedaan antara kedua tim dalam momen-momen penentu: Nerazzurri menyia-nyiakan peluang mereka, sedangkan Real memaksimalkan setiap hadiah yang diberikan, memasuki jeda dengan keunggulan melalui usaha yang minimal.
Kemenangan yang Menipu
Real Madrid memiliki kesempatan untuk mengakhiri pertandingan pada babak kedua. Inter mendorong seluruh lini mereka ke depan demi mengejar kebangkitan, meninggalkan ruang di belakang, dan celah-celah tersebut memberikan lebih dari satu kesempatan serangan balik berbahaya bagi Royal Club.
Pemborosan di depan gawang membuat mereka gagal mencetak gol ketiga yang seharusnya bisa sepenuhnya memastikan kemenangan.
Inter terus datang menyerang, menekan pertahanan Real Madrid, dan ketika pertandingan menyisakan kira-kira seperempat jam, Augusto mencetak gol untuk memperkecil ketertinggalan. Kecemasan kembali menyelimuti Royal Club.
Mourinho langsung bereaksi dengan memasukkan Aurélien Tchouaméni untuk menambah keseimbangan di lini tengah dan mengendalikan menit-menit akhir pertandingan.
Gol tersebut membuat Real Madrid hampir sepenuhnya bertahan, dengan para pemain mereka turun jauh ke belakang untuk melindungi keunggulan ketika Inter berusaha memanfaatkan kemunduran tersebut dan terus menekan hingga akhir.
Royal Club mampu bertahan. Mereka mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir dan meraih tiga poin meskipun harus melalui penderitaan sepanjang pertandingan.
Jadi, kemenangan atas Inter Milan ini tetap menjadi kemenangan yang menipu. Hasil tersebut memberikan Mourinho awal yang sempurna di Liga Champions, tetapi penampilan tim memperlihatkan masalah yang jelas dalam susunan pemain, keseimbangan dan penyelesaian akhir.
Mengandalkan kegemilangan individu Courtois setiap pekan, kesalahan lawan atau momen kualitas dari lini serang bukanlah cara untuk membangun sebuah tim.
Mourinho harus segera memikirkan kembali pendekatannya dan menemukan bentuk permainan yang lebih baik untuk tim ini, karena usaha individu tidak akan selalu menyelamatkan Real Madrid ataupun menyembunyikan kelemahan mereka.
Pada akhirnya, tiga poin memang sudah berada di tangan Real Madrid, tetapi pertandingan ini juga meninggalkan pesan yang sulit diabaikan.
Kemenangan dapat menutupi banyak hal, tetapi tidak selamanya mampu menyembunyikan masalah yang ada di dalam sebuah tim.